Corat coret

Lombok

Tujuan liburan saya kali ini adalah Lombok, khusus untuk liburan dan tidak disambi kerja. Saya ke lombok pada bulan januari. Kenapa? Karena masih awal tahun, jadi belum banyak kegiatan di kantor. Berhubung menggunakan dana pribadi, maka maskapai yang digunakan pun ikut menyesuaikan. Saya berada di Lombok selama 3 hari. Kemana saja? Berikut detail tempat yang saya kunjungi:

Hari Pertama
Jalan menuju bandara cukup lenggang, tapi tidak dengan kondisi di dalam bandara. Beneran deh padat banget dan antriannya panjang banget di semua counter. Ditambah lagi dengan banyak orang yang membawa banyak barang, yang artinya pasti menggunakan bagasi. Cukup riweh pada saat mau check-in. Makane nyambut gawe sing tenanan ben isa….. (isi sendiri ya).

Sesampainya di Lombok kami disambut dengan cuaca yang cukup cerah. Awalnya kami berniat untuk menggunakan moda transportasi umum (Damri) dan sepeda motor (Biar kayak di FTV), gak pakai acara carter/sewa mobil. Tapi ternyata itu kurang efisien dari segi waktu. Setelah tawar menawar biaya sewa mobil, kami pun berangkat dari bandara menuju Pelabuhan Bangsal. Menu makan siang kami adalah Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung yang merupakan makanan khas yang ada di Lombok.

Jalanan di Lombok lenggang banget,berbeda dengan di Bali, apalagi dengan Jakarta. Jalanannya pun mulus. Sebenarnya hari pertama mau kemana sih? Oke, agenda kami untuk hari pertama adalah Gili Trawangan.

Gili Trawangan
Kami menyeberang lewat Pelabuhan Bangsal. Kalau kata teman saya, “Pelabuhan Bangsal sing mambu jaran”. Mungkin karena ada transportasi seperti andong di daerah tersebut. Terdapat 2 alternatif untuk menyeberang menuju Gili Trawangan. Apa saja?

1. Fast Boat (Spead Boat)
Berdasarkan informasi yang saya dapatkan harganya Rp 85.000,- dengan waktu tempuh sekitar 20 menit serta bisa langsung berangkat.
2. Kapal biasa
kapal ini seperti yang ada di Kepulauan Seribu. Harganya pun terpaut lumayan jauh, yaitu Rp 17.500,-. Selain harga trus apalagi sih bedanya? Bila menggunakan kapal ini, maka memerlukan waktu sekitar 45 menit. Kapal akan berangkat bila sudah memenuhi kuota, sekitar 42-44 penumpang.

Di tengah ke-pah-poh-an, akan banyak orang menawari untuk menggunakan jasa speed boat. Bila ditanya tentang kapal biasa, mereka cenderung akan menjawab, “Wah lama nunggunya, baru aja kapalnya jalan. Harus nunggu penuh dulu”. Sebaiknya langsung saja bertanya pada petugas yang ada di loket, untuk memastikan kira-kira bakal menunggu lama atau tidak, tanya saja sudah berapa penumpang yang membeli tiket. 

Kita akan dipanggil berdasarkan warna tiket yang kita punya serta diberikan informasi akan naik kapal yang mana. Sesampainya di Gili Trawangan, silakan menyewa sepeda (bagi yang bisa. hehe) dengan harga sekitar Rp 50.000,-. Untunglah hotel kami tidak terlalu jauh dari dermaga. Setelah check-in di hotel, kami langsung cuss untuk mencari dimana keberadaan “ayunan” yang sering muncul dipostingan media sosial. Dengan mengandalkan tanya-tanya orang, kami mulai mencari keberadaan si ayunan. Cukup dengan menyusuri jalan lingkar luar di Gili Trawangan, pasti ayunan itu ketemu. Ternyata ayunan itu ada banyak. Berhubung sudah sore, kami pun berhenti di salah satu ayunan. Foto-foto bentar trus dilanjutkan dengan makan malam.

Sebelum menemukan ayunan yang salah itu, ada tragedi sepeda. Rantai sepeda teman saya sedikit bermasalah. Alhasil harus kembali ke tempat penyewaanya untuk di ganti dengan sepeda yang lain. Jadi, bila memang dari awal sudah merasa sepedanya sedikit bermasalah, sebaiknya langsung minta ganti.

Kami makan malam di pasar seni. Disana terdapat banyak penjual, mana yang paling enak? Pilih saja yang ramai, tapi juga jangan lupa untuk membandingkan dengan penjual yang lain. Menu kami adalah 3 lauk (seafood) plus sayur dan nasi dengan harga Rp 60.000,-. Di sepanjang jalan juga banyak yang menjajakan jagung bakar, dengan harga Rp 15.000,-.

Berhubung salah seorang teman ternyata sedang masuk angin, kami pun mencari warung terdekat untuk membeli Tolak Angin. Kami dengan pede langsung mengambil 9 buah Tolak Angin. Dengan jujur mbak penjaga berkata, “Ini harganya Rp 5.000,- per buahnya lho”. Hah…. Kaget… Langsung kami kurangi menjadi 6, tapi kok masih tetep mahal ya. Turun lagi menjadi 3 buah. Tolak Angin sehari cukuplah untuk sehari. Terus mbak tersebut berkata lagi, “Coba tebak, berapa harga gunting kuku ini? Rp 45.000,-“. Bhayyyy.

Setelah makan malam, kami lanjut untuk mencari jajan. Pilihan kami jatuh kepada leker. Kami pun iseng berkata, “Mas, pesen leker rasa coklat ya, tapi kita mau nyoba bikin sendiri”. Dengan sedikit training dari mas penjual, kami mencoba membuat leker kami masing-masing. Bagaimana hasilnya? Wah… Ternyata saya berbakat lho. Mungkin saya bisa buka stand leker di kantor kali ya. Meskipun sedikit agak kaku waktu membuatnya. hehe. Lantas bagaimana dengan nasib leker teman saya? Sudahlah, mungkin memang dia berbakat di bidang olahraga.

Oke. Sudah malam. Saatnya kembali ke hotel dan beristirahat.

Hari Ke Dua
Kami masih berada di Gili Trawangan untuk hari kedua. Awalnya sih mau snorkeling tapi waktunya tidak cukup dan kami masih harus melanjutkan perjalanan lagi. Biaya snorkeling disini cukup murah, hanya dengan biaya Rp 80.000 – Rp 100.000 (tidak termasuk makan siang), kita sudah bisa snorkeling di 3 tempat: Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Di mulai pada pukul 9 pagi sampai dengan pukul 3 sore.

Masih penasaran, pagi ini kami lanjut mencari keberadaan ayunan yang benar. Yeah… Kami menemukannya, si ayunan. Jalan-jalan sebentar di tepi pantai dilanjutkan dengan sesi foto-foto di ayunan. Lanjut jajan gelato dulu ya. Jajan terus…

Pas jajan, gelatonya temen saya jatuh, padahal baru diicip sedikit -_-. Sempet ditawari untuk diganti tapi teman saya menolaknya. Trus tiba-tiba dikasih gelato yang baru. Aih baiknya. Kalau udah tinggal dikit dijatuhin ah… Eh… Gak boleh gitu lho ya. Ndak baek. 

Kalau ingin main air sendiri, bisa datang ke tepi laut yang berada di depan masjid. Katanya disitu lokasinya cukup bagus kalau mau main air. Jangan lupa sewa alatnya ya atau bawa kacamata renang. Biaya sewa alat sekitar Rp 35.000,-.

Saatnya menuju destinasi berikutnya. Kami kembali ke Pelabuhan Bangsal dengan menggunakan kapal biasa, harga Rp 15.000,- (lebih murah daripada Pelabuhan Bangsal-Gili Trawangan). Setibanya di Pelabuhan Bangsal, kami sudah ditunggu oleh driver yang akan mengantarkan kami liburan. Kemana saja kami di hari ke-2 ini?

Pantai Kuta
Ternyata Pantai Kuta tidak hanya ada di Bali tetapi juga di Lombok. Hujan turun cukup deras, kami pun gak bisa main-main air. Sembari menunggu hujan reda, kami makan siang disalah satu tempat makan. Ada paket nasi ayam plus sayur seharga Rp 25.000,-. Badan boleh kecil, tapi kapasitas perut gak kecil. Gara-gara melihat Indomie, kami pun memesan lagi mie goreng dan mie rebus (Rp 12.000,-/porsi). Porsinya banyak lho. Lanjut ke tujuan berikutnya ya.

Bukit Merese dan Tanjung Aan
Jalan dari Pantai Kuta menuju Bukit Merese dan Tanjung Aan tidak terlalu mulus. Dari tempat parkir mobil, kita mendaki sedikit untuk menuju Bukit Merese. Jalannya agak sedikit licin karena sebelumnya hujan. Hamparan rumput hijau pun menyambut kami. Seperti di Pengunungan Alpen. Kayak udah pernah kesana aja. Tenang sekali rasanya. Bukit Merese langsung berhadapan dengan laut. Tidak hanya manusia yang ada disana, tetapi juga sapi dan kambing. Kayak di peternakan kan.

Hanya dengan berjalan kaki, kami menuju Tanjung Aan. Airnya masih jernih dan tidak terlalu ramai. Pasirnya putih dan hanya terdapat beberapa kapal yang ada ditepinya. Mengingat sudah mulai sore kami lanjut ke tempat wisata berikutnya.

Desa Sasak
Lokasinya gampang untuk ditemukan karena berada persis di tepi jalan raya. Gak usah bingung kalau sudah sampai sini, di jamin akan ada orang yang langsung menyambut kita dan mengantarkan kita untuk bekeliling di Desa Sasak.

Gak afdol rasanya kalau tidak membeli kain khas disini. Oleh-oleh buat mamak. Kalau harganya dirasa kemahalan, ya tinggal di tawar saja. Mari lanjut ke tujuan berikutnya. 

Sembalun
Entah dapat ide dari mana, teman saya pengen ke Sembalun yang lokasinya berada di dalam kawasan Gunung Rinjani. Kalau naik gunungnya, entah kapan.

Perjalanan menuju Sembalun cukup menantang. Kenapa? Karena sepi, gelap, dingin, berkabut, berkelok-kelok dan lewat hutan pula. Sempat beberapa kali, saya tidak bisa melihat jalan yang ada di depan. Kaki berasa ingin menginjak rem. Lantas apa yang kami lakukan? Nyanyi-nyanyi donk. Untung bapak driver punya koleksi lagu yang cukup komplit.

Untuk hari ke dua ini, kami belum memesan hotel. Kami mendapatkan rekomendasi hotel dari driver kami, tapi kurang cocok. Lantas kami mencoba mencari via internet. Kami dapat hotel yang harganya cocok dan gambarnya kece. Kami langsung saja menuju kesana. Ternyata berbeda dengan di gambar. Gelap dan sepi sekali. Mencekam gaes… Untuk bertemu dengan petugasnya pun kami sedikit kesulitan. Kami pun kembali mencari hotel yang lain. Kami memilih hotel yang cahaya lampu papan neonnya paling bersinar, dengan harapan hotelnya tidak sepi dan tidak gelap, dasar pemilihan macam apa ini. Hotelnya cukup bagus, baik dari segi kamar, sarapan, dan pelayanan serta harganya pun lumayan terjangkau (atau mungkin kepepet juga). 

Hari Ke Tiga

Setelah sarapan, Sekitar jam 7.30 WITA kami lanjut ke lokasi foto dari sekitar Pusuk Sembalun. Kami pun hanya sebentar foto-foto karena harus segera pergi sebelum kabut turun. Dingin berasa kayak di Kaliurang atau Puncak. Kami pun menyusuri jalan yang kemarin malam kami lewati. Wuih… Gak membayangkan kemaren malam melewati jalan ini. Sedikit berkelok-kelok tapi disuguhi dengan pemandangan alam yang adem. Lanjut ke tempat berikutnya.

Mencoba Alat Tenun
Sebenarnya agenda kami di hari ketiga adalah ke Pusuk Sembalun dan langsung menuju bandara. Tetapi karena masih ada cukup waktu, kami mlipir mampir ke tempat dimana kami bisa mencoba alat tenun tradisional. Hanya wanita yang diperbolehkan untuk menenun, dan kalau tidak bisa menenun maka tidak boleh menikah. Ih… Gitu ya ternyata. 

Kami juga menyoba pakaian adat yang ada dan berfoto-foto di rumah adat. Kami kan sudah membeli kain di Desa Sasak, makanya kami mencoba melarikan dari tawaran yang ada di sini. Hehe… 

Yuk sudah, mari ke bandara.

Bandara
Antrian di counter tidak terlalu ramai seperti pada saat kami berangkat. Terbang sesuai dengan waktu yang tertera pada boarding pass. Penerbangan kali ini masuk dalam kategori penerbangan yang berisik. Bukan mesinnya tapi penumpangnya. Jadi gak bisa bobok dengan cantik. 

Liburan kurang sah kalau tidak ada pengalamannya, apa aja sih? (Salah satu quote dari liburan saya sebelumnya “nyambut gawe sing tenanan ben iso numpak speed boat” (akan diceritakan dalam tulisan tersendiri)).

1. Jangan lupa beli tolak angin. Tidak ada yang tau kalau harga tolak angin bisa 2 kali lipat dari biasanya

2. Berani menawar. Tapi jangan kebangetan ya. Ingat ya, turut serta meningkatkan pendapat asli daerah. #Ngarang.

3. Bawa bantalan sendiri untuk naik sepeda. Pada hari ke dua, pantat kami sakit karena sadelnya keras.

4. Jangan mudah percaya. Kalau ada yang bilang pelabuhannya tutup karena cuaca yang kurang baik, tetaplah teguh pada pendirianmu nak. Kami awalnya tidak disarankan menyeberang lewat Pelabuhan Bangsal karena alasan cuaca. Bro… Ini bukan kali pertama saya dapat alasan “tutup” saat mau menuju suatu tempat.

5. Pilihlah bulan yang tepat untuk berlibur karena cuaca cukup berpengaruh terhadap kegiatan yang sudah diagendakan.

Ringkasan Biaya dan Waktu Tempuh

Biaya
1. Bandara – Pelabuhan Bangsal : Carter mobil dengan biaya sewa Rp 300.000,-
2. Kapal dari Pelabuhan Bangsal – Gili Trawangan : Rp. 17.500,-
3. Kapal dari Gili Trawangan – Pelabuhan Bangsal : Rp 15.000,-
4. Sewa mobil: Rp 500.000,-/ hari. Sudah dengan bensin

Waktu Tempuh

1. Bandara – Pelabuhan Bangsal : sekitar 2 – 3 jam
2. Pelabuhan Bangsal – Gili Trawangan dan sebaliknya: 45 menit
3. Pelabuhan Bangsal – Pantai Kuta : 3-4 Jam
4. Pantai Kuta – Bukit Merese dan Tanjung Aan: 30 menit
5. Bukit Merese dan Tanjung Aan – Sembalun: 3-4 jam
5. Sembalun – Tempat Menenun : 2.5 – 3 jam
6. Tempat Menenun – Bandara: 30 menit

Oke. Sesi liburan di Lombok sudah selesai. Sampai jumpa di sesi liburan berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s