Informatif

Tilang Perdana

Niat baik tak selamanya berjalan mulus. Bahkan kadang terbesit pikiran, “Kenapa dulu nawarin bantuan ya?”. Hal tersebut pun sempat terlintas di pikiran ketika saya mengalami kejadian yang berhubungan dengan tilang.

Saat itu saya sudah berjanji untuk menemani seorang teman untuk mencari motor bekas. Sekitar beberapa bulan yang lalu motornya hilang. Hal tersebut cukup mengejutkan bagi saya. Saya pun kadang menjadi was-was bila parkir di tempat umum. Saya pun menjemputnya. Dia memberitahukan lokasi showroom motor bekas. Saya sendiri kurang tau pasti lokasinya. Malu bertanya sesat di jalan, tapi bertanyalah pada orang yang tepat.

Ketika menuju kesana, terlihat beberapa polisi di pinggir jalan.

“Wah… Ada cegatan…”
“Udah jalan aja”, ujar saya yang yakin bahwa memiliki surat-surat yang lengkap

Polisi meminta kami untuk menepi dan menunjukkan kelengkapan surat-surat.

“Selamat siang. Bisa ditunjukkan STNKnya”
“Siang pak. Ini…”, sembari menyerahkan STNK
“Asli Jogja?”, kata pak polisi sembali melihat plat nomer
“Iya pak”
“SIMnya ada?”
“Ada. Sebentar ya”
“Hmm… Oke. Kalau yang di depan mana SIMnya?”

Saat itu saya posisinya sebagai pembonceng. Saya pun mulai khawatir kalau teman saya tidak membawa SIM. Fiuh… Untunglah ada SIM yang dia keluarkan dari dompetnya.

“Ini pak”, sambil menyerahkan SIM
“Ini SIMnya sudah mati. Tahun 2012 ya. Ini gimana?”

Aduh-aduh. Piye iki?

“Ya udah deh pak, bayar aja!”, ujar teman saya dengan nada emosi sembari turun dari motor
“Lho kok kayak gitu. Kalau gitu ini STNKnya saya tahan. Bisa di ambil di Pengadilan Jakarta Utara hari jumat”

Langsung terbayang di pikiran, “Gak keren banget harus ijin kantor demi ambil STNK di Pengadilan. Mana gak tau dimana lokasinya”.

Jangan deh pak. Saya gak bisa ngambilnya”, ujar saya dengan nada memelas
Lha tadi temen mbak omongannya gak enak

Terjadi nego-nego dengan pak polisi.

Ini saya bikinkan surat untuk ambil STNKnya. Ini tanda tangan”

Saya dan teman saya pun berpandang-padangan. Teman saya tetap bersikukuh untuk tidak mau tanda tangan. Kasihan saya yang harus ambil STNK.

“Jangan deh pak. Kasihan temen saya. Lagian ini motor bukan punya saya. Kalau mau pake KTP saya aja”, ujar teman saya
“Lha tadi saya udah ngomong baik-baik. Tapi tadi malah sikapnya kayak gitu. Udah tau SIMnya mati. Kita gak bisa kalau pake KTP”
“Gara-gara kerja, saya ini gak sempet pulang Jogja untuk urus SIM”
“Kita minta maaf deh pak. Baiknya gimana? Asal jangan STNK saya ditahan”, berkata dengan tampang lebih memelas. Gpp deh dari pada ijin kantor gara-gara ambil STNK

Kemudian terjadilah percakapan yang agak ngawur dan tidak sinkron.

“Oke deh. Kalau gitu hari selasa di ambil disini”, kata pak polisi sembari menunjuk tulisan Pancoran yang ada di surat tilang

Ya ampun dimana lagi itu Pancoran. Tapi kemudian saya ingat teman saya pernah berkata bahwa kalau dia naik bis turunnya di Pancoran. Di patung yang tiangnya melengkung.

“Aduh… Jangan dong pak. Saya gak bisa ngambilnya. Maaf deh pak atas sikap teman saya. Ini juga karena kita buru-buru”
“Emang mau ke mana?”
“Ke bandara. Nah karena buru-buru ngejar pesawat, jadinya temen saya tadi sedikit emosi”, waktu ngomong ini sambil mikir “kalau ditanya kenapa naik motor, saya sudah nyiapin jawaban ‘Nganter ke pool Damri’
“Iya pak. Saya ini juga mau pulang untuk ngurus SIM”
“Ya udah. Ini STNKnya. Agamanya apa?”, sembari menyerahkan STNK

Kami masing-masing menyebutkan agama

“Saya juga sama. Tadi yang mau dikasih ke saya, beri ke tempat ibadah kalian. Kuliah kan?
“Iya pak”
“Kuliah dimana?”
“Kuliah di xxx”
“Sama saya juga kuliah. Kuliah di xxx”
“Lain kali jangan di ulangi. Ingat jangan lupa kasih yang tadi mau kalian kasih ke saya”
“Iya pak. Terima kasih”

Memasukkan STNK dengan rasa tidak percaya. Tidak ada sepeser uang pun yang dikeluarkan. Berhubung abis di cegat polisi maka saya yang gantian di depan (mengendarai motor). Lewat beberapa meter dari tempat kejadian, kami berdua tertawa dengan rasa tidak percaya atas kejadian yang baru saja di alami. Bisa-bisanya lolos dari cegatan polisi tanpa bayar.

“Tadi tu jawaban mu gak sinkron. Di awal bilang kerja. Di belakang bilang kuliah”
“Haha… iya juga ya. Tapi tadi si bapak juga bohong kayaknya. Kok bisa dia bilang masih kuliah”
“Trus tadi bisa-bisanya pake acara ngarang mau ke bandara. Haha…”

Dan kami pun lolos dari cegatan polisi…

Keesokkan harinya saya menceritakan kejadian cegatan pada teman. Dia kemudian membacakan info yang didapatkannya mengenai Surat Tilang. Pada umumnya surat tilang yang diberikan berwarna biru dan berwarna merah. Apa artinya?

Surat tilang berwarna merah adalah surat tilang dimana pelanggar mengakui telah melakukan pelanggaran dan akan menyelesaikannya di pengadilan. Di pengadilan banyak calo yang memanfaatkan hal ini.

Surat tilang berwarna biru adalah surat tilang dimana kita mengakui bahwa kita melakukan kesalahan dan akan membayar denda melalui bank BRI. Setelah membayar kita dapat mengambil surat yang ditahan di kantor polisi terdekat (kantor polisi tempat kita di tilang) dengan membawa bukti transfer.

Bila ada polisi yang berkata bahwa sama saja, maka katakanlah, “Saya sudah membaca iklan sosialisasi mengenai hal ini”. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi tindakan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.

Saya jadi teringat dulu ketika melanggar lalu lintas dan diminta membayar dendanya melalui BRI. Tapi saya menyerahkan uangnya kepada polisi tersebut. Saat itu saya dalam keadaan buru-buru dan memilih untuk “menitipkan” uang denda kepada pak polisi. Trus apa bedanya ya? Apakah beneran bakal di setor?

Jangan lupa lengkapi diri Anda dengan surat-surat yang lengkap sebelum berkendara…

*ini merupakan tilang perdana di kota ini dan semoga menjadi yang terakhir*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s