Corat coret

Hujan, Mati Lampu dan Pulang Kampung

Sekitar satu bulan yang lalu saya memutuskan untuk pulang kampung. Saya sudah membeli tiket 1 bulan sebelum keberangkatan. Pulang dengan kereta bisnis Senja Utama dan kembali dengan kereta Argo Dwipangga. Pertimbangan membeli kereta bisnis adalah harganya yang lumayan lebih murah daripada kereta executive. Saya merasa cukup nyaman menggunakan kereta bisnis. Tidak merasa kepanasan, aman, dan bersih. Sandaran kursinya pun tergolong nyaman. Meski ada beberapa teman yang tidak menyukainya. Tapi bila dibandingkan dengan kereta Ekonomi AC, memang kereta bisnis lebih nyaman. Kursinya pun tidak saling berhadapan sehingga tidak perlu ja’im dengan penumpang lainnya. Di samping itu, saya tidak terburu-buru untuk sampai sehingga ke-on-time-an pun dapat di kesampingkan. Sedangkan untuk kembali, saya memilih kereta executive untuk mengejar waktu, kereta yang lebih on time. Sekedar catatan saja, bila ingin naik kereta yang on time, pilihlah kereta yang memang startnya di tempat kita naik, atau dekat lokasi kita naik. Misalnya kita tinggal di Jogja, pilihlah kereta Taksaka (start di Jogja) atau Argo Dwipangga (start di Solo). Potensi delaynya lebih kecil. Dulu saya pernah memilih kereta Gajahyana (Start di Malang) dan delay sekitar 1 jam. Saya pun di beri pesan oleh teman, “Besok kalau mau naik kereta, mending pilih yang startnya dari kota kita naik“.

Harga kereta bisnis Senja Utama pada waktu weekend sekitar Rp 180an. Kereta berangkat pada pukul 19.30 dari stasiun Senen. Sekitar jam 5 sore (lebih sedikit), saya meminta ijin untuk pulang duluan. Jalanan menuju kost terbilang macet. Rencana saya sesampainya di kost adalah mandi. Saya merencanakan untuk berangkat jam 18.30 dengan menggunakan bajaj, biar lebih hemat dan cepat. Saya spare waktu sekitar satu jam.

Jam
Jam

Cerita pun di mulai…

Ketika sampai kost, ternyata kamar mandi sedang akan digunakan. Saya pun berpesan, “Saya mandi duluan ya. Soalnya mau pulang“. Saya masuk kamar untuk mengambil baju, dan mengecek sebentar barang bawaan. Ketika kembali ke kamar mandi, saya malah mendapati bahwa kamar mandi sedang digunakan. “Tadi aku kira masih agak lama mau mandinya“. Sedikit agak geram mendengar jawaban itu. Saya pun memutuskan untuk makan. Setelah kamar mandi kosong, saya bergegas untuk mandi. Terdengar samar-samar hujan turun. “Waktu itu hujan rintik-rintik…“. Saya sempat agak khawatir bagaimana cara untuk mencari bajaj atau transportasi umum lainnya. Ketika sedang bersiap-siap, tiba-tiba saja mati lampu. Waduh… gelaplah semuanya. Mati lampu dan hujan adalah perpaduan sempurna bagi orang yang akan pulang kampung. Pada saat itu jam tangan menunjukkan sekitar pukul 18.15. Mengingat hujan yang cukup deras, saya pun memutuskan untuk mencoba menelpon taxi tapi semuanya sibuk. Beruntunglah sehari sebelumnya saya sudah packing sehingga bisa mengurangi kekalutan saat itu. Bayangkan kalau belum packing atau packingnya belum selesai.

Mau tidak mau, saya harus cari bajaj dengan mengenakan payung. Sebelum pulang saya mengecek kembali tiket yang ada di dompet. Ketika sedang mengecek, tiket tersebut seolah-olah hilang. Padahal saya yakin betul kalau sudah saya simpan di dompet. Cahaya lampu emergency menemani saya mencari tiket dan seolah-olah waktu seperti berkata, “Udah jam segini woi… Mau berangkat jam berapa? Inget ini hari jum’at dan hujan“. Mati lampu benar-benar membuat suasana amat sempurna di tambah lagi dengan sodara yang mengganggu dengan mengerak-gerakan lampu emergency sembari bertanya berbagai macam pertanyaan. Ternyata memang tiket sudah ada di dompet, tapi cahaya yang redup membuatnya sulit terlihat.

Saya pun mendapatkan tawaran untuk di antar sampai dengan terminal atau sampai dengan mendapatkan bajaj atau taxi. Saya pun masuk ke dalam mobil, ketika mobil hendak keluar, ada mobil yang sedang parkir sehingga kami harus menunggu. Ketika hendak atret, tiba-tiba ada mobil yang melintas. Waktu terasa begitu cepat dan saya mulai gelisah melihat jam tangan. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 18.45. Ada mobil yang tepat berada di ujung garasi sehingga sedikit menyulitkan untuk mengeluarkan mobil di tambah dengan beberapa kali mobil lalu lalang. Saya pun memutuskan kembali ke skenario awal.

Payung terbuka dan kaki siap melangkah mencari sang abang bajaj. Lebih tepatnya saya berlari. “Hmm… Ada gunanya juga ya selama ini olahraga. Berguna untuk saat-saat seperti ini, mengejar waktu“. Tidak lama kemudian saya mendapati bajaj yang melintas.

“Ke Senen ya pak”
“Senen?” sembari geleng-geleng
“Kenapa pak? Berapa?”
“Kalau ke senen, enggak deh mbak. Macet pas baliknya”
“Ayolah pak, saya ngejar kereta. Agak mahal juga gpp deh”
“Enggak mbak”
“Kalau gitu gini aja deh pak. Tolong anterin saya untuk cari bajaj yang mau nganter ke Senen”
“Ya udah. Naik deh”

Kejadiannya kayak di film-film. Kondisi hujan dan di buru waktu. Ada orang yang minta tolong tapi tak ada orang yang mau *lebay*.

Tak jauh dari lokasi tersebut, saya menemukan bajaj yang mau mengantarkan saya ke Senen. Saya pun berganti bajaj dan harus membayar lima ribu rupiah, yang kalau saya jalan kaki sekitar 2 menit. Di bajaj yang baru pun harga yang di patok cukup fantastis. Tapi apa boleh buat daripada ketinggalan kereta. Saya hanya menakutkan kalau macet di jalan. Dalam kondisi hujan, basah, dan dingin, saya mencoba menenangkan diri. Berharap jalanan lenggang dan lancar sampai ke stasiun. Memang saya dapati daerah Salemba macet. Saya pun sampai di stasiun 15 menit sebelum jam keberangkatan. Untunglah tak ada proses check-in seperti di bandara.

Beruntung kereta bisnis tidak menggunakan AC sehingga baju dan celana dapat kering tanpa saya harus merasa kedinginan. Cukup sudah kejadian yang melelahkan jiwa. Saatnya untuk bertukar cerita dengan orang yang berada di sebelah saya…

Advertisements

One thought on “Hujan, Mati Lampu dan Pulang Kampung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s